Dilema PR dalam Pendidikan Kita

Tim iNews.id
.
Kamis, 22 September 2022 | 19:00 WIB
Muchammad Tholchah, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), (Foto : Dok)

BARU-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mewacanakan penghapusan Pekerjaan Rumah (PR) bagi peserta didik, sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Meskipun sebenarnya hal ini bukan ide baru, karena beberapa tahun lalu pernah dilontarkan, tetap saja wacana ini cukup menggelitik karena dalam pendidikan kita PR memang sudah menjadi praktek yang berlangsung selama puluhan tahun.

Tulisan ini bermaksud memberikan perspektif tentang peran dan posisi PR dalam pendidikan kita, serta upaya mengoptimalkannya dalam praktek pendidikan kita.

Kompleksitas PR di Indonesia

Kita perlu memposisikan PR sebagai satu hal yang terkait dengan banyak aspek lain dalam pendidikan kita, bukan sebuah entitas tunggal, yang berdiri sendiri dan terpisah, sehingga seolah dapat dengan mudah dihapus begitu saja.

Pertama, adanya ujian nasional dan ujian kenaikan kelas. Diakui atau tidak, inilah yang selama ini menjadi momok bagi guru dan peserta didik. Guru dituntut untuk menyelesaikan materi pembelajaran (dan nilainya “diharuskan” tinggi) dalam waktu yang ditentukan.

Agar sukses ujian, seluruh materi pelajaran harus sudah disampaikan kepada peserta didik. Pemberian PR oleh guru, baik yang dimaksudkan sebagai pengayaan maupun latihan soal, menjadi strategi yang tidak terhindarkan dengan harapan sebelum ujian dilaksanakan seluruh materi sedapat mungkin dikuasai oleh peserta didik dan nilai ujiannya baik.

Kedua, jumlah mata pelajaran yang terlalu banyak. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah mata pelajaran sekolah terbanyak, terutama  untuk jenjang pendidikan dasar. Hal ini mengakibatkan porsi waktu untuk setiap mata pelajaran menjadi terbatas. Belum lagi jika sekolah memberi prioritas bagi mata pelajaran yang di-UN-kan, maka ada kemungkinan mata pelajaran lain yang dikorbankan.

Beban kurikulum pembelajaran dituntut untuk dikuasai peserta didik berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan lembaga pendidikan. Belum lagi jika peserta didik belajar di madrasah, di mana mata pelajaran agama dipecah menjadi beberapa mata pelajaran yang lebih spesifik yaitu al-Quran Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqh, Bahasa Arab, Sejarah Islam tentu beban akademiknya semakin berat. Dalam situasi seperti ini, PR merupakan salah satu strategi guru untuk mengupayakan agar semua peserta didik memiliki pemahaman yang tinggi.

Halaman : 1 2 3 4 5
Bagikan Artikel Ini